PERANG SALIB DAN DAMPAKNYA DALAM SEJARAH DUNIA[1]

Oleh: Jhota Bangkit Andaka[2]

Eropa pada abad pertengahan (800-1400 M) disebut pula sebagai masa kegelapan (dark age). Dominasi kekuasaan dan dogma-dogma gereja begitu kuat mempengaruhi segala aspek kehidupan bangsa-bangsa Eropa. Paus adalah pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik yang sangat ditaati seluruh raja di Eropa.

Perang salib dipicu oleh adanya pembatasan ketat terhadap umat Kristen Eropa yang hendak berziarah ke Yerusalem oleh bangsa Turki dari dinasti Seljuk. Paus Urbanus II (Pope Urban II) kemudian menyerukan agar raja-raja di seluruh Eropa mengirimkan Tentara Salib (Crusader) untuk merebut Yerusalem dari tangan penguasa muslim. Karena peranannya dalam memobilisasi Tentara Salib inilah, Michael Hart memasukkan Paus Urbanus II dalam buku fenomenalnya; “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”. Tentara Salib terdiri dari dua ordo (kelompok) besar, yaitu Hospitaler dan Ksatria Templar yang lebih radikal. Mereka kebanyakan direkrut dari golongan rakyat kelas bawah dan orang-orang yang dianggap sampah masyarakat di Eropa. Pada kenyataannya, pada waktu perang salib, mereka tidak hanya membunuh orang-orang Islam tetapi juga membunuh umat Kristen yang berasal dari sekte-sekte gereja Timur.

Perang Salib berlangsung selama hampir 200 tahun (1095-1291), terjadi dalam beberapa episode diselingi beberapa masa damai. Pada perang salib pertama, tentara salib berhasil merebut Yerusalem dan mendirikan kerajaan di sana dengan Baldwin I sebagai rajanya. Perang salib kedua adalah episode yang paling heroik bagi umat Islam. Tentara muslim yang dipimpin oleh Saladin (Shalah ad-Din Yusuf ibn Ayyub / Shalahuddin Al-Ayyubi) menang telak atas tentara salib dalam pertempuran terbuka di padang Hattin dan berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187. Dalam perang salib ketiga, pasukan Kristen dipimpin oleh Raja Richard I dari Inggris, namun gagal merebut kembali Yerusalem. Richard pulang ke Inggris dengan tangan hampa, sedangkan Saladin kemudian memindahkan pusat kekuasaannya dari Damaskus ke Mesir dan mendirikan dinasti Ayyubiyah yang berhaluan Sunni, menggantikan dinasti Fathimiyah yang berhaluan Syiah.

Dampak Perang Salib

Secara umum perang salib dimenangkan oleh umat Islam, namun kerugian yang diderita dinasti-dinasti Islam sangat besar mengingat perang ini terjadi di wilayah umat Islam. Perang salib bukan semata perang agama, tetapi pada hakekatnya adalah perang politik, karena adanya perebutan kepentingan, wilayah dan faktor-faktor ekonomi. Beberapa dampak perang salib yang mempengaruhi sejarah dunia pada masa-masa selanjutnya antara lain:

  1. Mendorong kemajuan bangsa-bangsa Eropa di bidang iptek.

Pada abad pertengahan, dinasti Abbasiyah yang beribukota di Baghdad sedang berada di puncak kejayaannya. Ilmu pengetahuan seperti filsafat, astronomi, kedokteran, dan matematika mengalami perkembangan pesat. Sedangkan pada saat yang bersamaan, Eropa masih diliputi dogma-dogma gereja yang sangat ketat. Ilmuwan yang berani menentang gereja akan dihukum mati. Keadaan masyarakatnya jauh tertinggal dari peradaban Islam, sampai ada sebuah pameo, ”Orang Islam sudah mengenal dokter ketika orang Kristen masih menyembahyangi tulang para Santo untuk menyembuhkan orang sakit”.

Dengan adanya interaksi antara orang Eropa dengan umat Islam, mendorong bangsa Eropa untuk belajar iptek. Pada tahun 1400-an, dimulailah babak baru dalam sejarah Eropa yang disebut sebagai zaman rennaisance (kebangkitan kembali). Pada masa ini kemajuan iptek di Eropa mengalami perkembangan, sedangkan di dunia Islam justru mengalami penurunan. Bukti yang masih bisa dilihat dari interaksi iptek antara Eropa dan Islam adalah banyaknya kosakata bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Arab seperti rice (beras, nasi) berasal dari kata ar-ruuz, chemistry (kimia)= al-kimiya, Logaritm= al-Khawarijm (nama seorang ahli matematika), dll.

  1. Memicu Penjelajahan Samudera

Sejak berabad-abad, perdagangan Asia-Eropa dilakukan melalui jalan darat yang menghubungkan China, Asia Tengah, Timur Tengah sampai Italia (jalur sutera / silk road). Namun saat terjadi perang salib, jalur yang melalui Timur Tengah tertutup, sehingga memaksa bangsa Eropa mencari jalan lain untuk mendapatkan rempah-rempah dari Asia. Mereka kemudian menggunakan laut sebagai jalur transportasi. Meski pada akhirnya penjelajahan samudera membawa dampak buruk bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika karena merupakan awal dari imperialisme dan kolonialisme.

Sedangkan bagi umat Islam sendiri pada awalnya perang salib membawa dampak positif karena membuat dinasti-dinasti Islam bersatu mengusir tentara salib. Namun kemudian karena kerugian besar yang diderita, membuat dinasti-dinasti Islam kembali terpecah belah, dan sebagai akibatnya peradaban Islam mengalami kemunduran.

Sumber Rujukan:

Carole Hillenbrand, The Crusades, Islamic Perspectives. New York, 2000

Hans E. Mayer, The Crusades. Oxford, 1965

Yatim, Badri, 2000, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, RajaGrafindo Persada


[1] Makalah disampaikan dalam Bedah Film “Kingdom of Heaven”, Selasa, 15 Desember 2009, di asrama Jam’iyatul Huffadz Mahasiswa di Surabaya (JHMS), Wonocolo, Surabaya.

[2] Alumni Pend. Sejarah, FIS, UNESA, angkatan 2005

This entry was posted in Alam Ide and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s