TUBAN KOTA BISNIS: Sebuah Tinjauan Historis Abad XV-XVI

Jhota Bangkit Andaka[1]

Abstract

Tuban is a harbor city in northern East Java. It has significant role as a bussines and voyage city since Kadiri, Singhasari, Majapahit until the golden era of the Islamic kingdoms. During XV-XVI century, Tuban became a part of international network of bussines. The foreigner from Arab, Persia, Gujarat, China and other islands in south-east Asia came to this city to took a part into bussines activity and made some new communities. Always happened good social interaction between the foreigner communities and the local citizens. This fact made the Tuban’s peoples have great interpreneunship, increased soil condition is not so good for farming activity, also Sunan Bonang as an Islam missionarist also an bussinesman.

Keyword: Tuban, economy, bussines network

Berita-Berita Tentang Tuban

Bukti tertulis yang dapat dikaitkan dengan sejarah kota Tuban antara lain dapat diketahui berdasarkan empat prasati yang ditemukan di sekitar Tuban. Prasasti pertama dikenal dengan sebutan prasasti Kambangputih yang diduga berasal dari tahun 1050 M, prasasti kedua dinamakan prasasti Malenga yang merupakan prasasti “tinulad” atau salinan dari prasasti asli yang berasal dari tahun 1052 M, sedangkan prasasti ketiga dikenal dengan sebutan prasasti jaring yang diduga berasal dari tahun 1181 M, dan sebuah lagi prasasti Karangbogem yang berasal dari tahun 1308 M.

N.J. Krom mengaitkan prasasti pertama dengan perbaikan pelabuhan Kambangputih yang diduga terletak di sekitar kota Tuban. Prasasti kedua memuat keterangan tentang pemberian anugerah Sri Maharaja Sira Hari Garasakan kepada penduduk Malenga berupa penetapan desa tersebut menjadi Sima. Anugerah tersebut diberikan karena jasa penduduk Malenga dalam mempertahankan wilayah kekuasaan baginda dari serangan melawan Hari Linggajaya. Prasasti ketiga memuat anugerah raja untuk menjadikan desa Jaring menjadi Sima. Anugerah tersebut diberikan karena penduduk telah memperlihatkan kesetiaannya kepada Sri Maharaja untuk mempertaruhkan nyawa dalam memerangi musuh. Informasi penting lainnya adalah disebutkannya jabatan Senapati Sarwwajala, yang artinya kurang lebih indikasi adanya angkatan laut dan adanya sejumlah pelabuhan yang tersebar di seluruh pantai kerajaan Kadiri, baik untuk kepentingan dagang maupun pertahanan.[2]

Sebenarnya sejak zaman kerajaan Kadiri dan Singasari (abad XI M), Tuban telah menjadi kota pelabuhan yang penting dan menjadi jalur perniagaan kedua kerajaan tersebut. Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Airlangga disebutkan orang-orang asing yang berdagang yaitu pedagang India Utara, India Selatan, Sailan, Burma, Kamboja dan Campa. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa Tuban mungkin sekali telah menjadi kota sejak abad ke-11, baik sebagai pusat dagang internasional maupun sebagai pusat pertahanan militer untuk menghadapi serangan-serangan dari luar. Peranan ini semakin tampak pada masa Majapahit dan masa-masa selanjutnya.[3]

Diceritakan pula bahwa ketika hendak menyerbu Singasari, tentara Mongol utusan Kubilai Khan juga masuk pulau Jawa melalui pelabuhan Tuban (1292 M) dan berlayar pulang ke negeri mereka juga melalui Tuban. Akan tetapi mulai pada abad XV masehi peranan Tuban sebagai kota pelabuhan dan perdagangan semakin signifikan. Ma Huan dan Fei Xin bersama rombongan muhibah Cheng Ho ketika hendak mengunjungi pusat kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menceritakan keadaan kota Tuban pada masa itu dalam Ying-yai Sheng-lan (1416):

Di Tuban, uang kepengan dari tiongkok yang terbuat dari kuningan berlaku pula. Di daerah ini terdapat penduduk lebih dari seribu keluarga yang dipimpin oleh dua kepala daerah. Di antaranya banyak terdapat perantau Tionghoa yang berasal dari provinsi Guangdong (Kwangtung) dan Zhangzhou. Tuban dahulu terletak di pantai berpasir. Dengan kedatangan banyak perantau Tionghoa, terbentuklah suatu kampung baru. Maka perantau Tionghoa menyebut Tuban sebagai Xin Cun (kampung baru). Di Tuban harga ayam, kambing dan sayur mayor sangat murah. Di pantai terdapat sebuah telaga yang rasa airnya agak manis dan dapat diminum. Konon kabarnya oleh masyarakat setempat air telaga itu dianggap suci. [4]

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa, Tuban sejak abad XIV telah ramai oleh pedagang-pedagang asing terutama dari negeri Cina, bahkan sebagian dari mereka menetap disitu dan membentuk suatu komunitas. Dalam Ying-yai Sheng-lan disebutkan pula bahwa Tuban merupakan salah satu dari empat kota besar di Jawa yang tidak memiliki tembok kota.[5]

Mengenai gambaran fisik kota Tuban lebih sedikit lagi diketahui. Sumber berita Cina seperti dikutip di atas, hanya menyebutkan bahwa Tuban, sebagaimana kota-kota lain di Jawa ketika itu tidak memiliki tembok kota, tidak seperti kota-kota di Cina. Keterangan dari masa berikutnya memberikan indikasi adanya perkembangan dari perubahan kota Tuban. Kitab Pararaton yang berasal dari sekitar abad ke-17 memberikan keterangan bahwa kota Tuban dikelilingi oleh tembok kota. Adanya tembok keliling kota dapat menjadi indicator adanya dua hal penting yaitu (1) bahwa Tuban telah berkembang menjadi pusat pemukiman yang penting setidak-tidaknya bagi pusat-pusat kekuatan politik dan ekonomi lain. Pembuatan pagar keliling kota tentu tidak terlepas dari keinginan para penguasa dari luar; (2) Kota Tuban merupakan daerah yang cukup rawan karena merupakan pintu gerbang masuknya kekuatan-kekuatan luar yang hendak menembus ke wilayah pusat kekuasaan di pedalaman.

Kondisi Perekonomian

Bahwa Tuban sejak dulu dipilih menjadi pelabuhan yang memiliki posisi penting, tentunya tempat ini mempunyai keistimewaan-keistimewaan tertentu. Keistimewaan tersebut tampaknya memang dimiliki oleh Tuban, setidak-tidaknya yang dapat diketahui berdasarkan sumber sejarah dari masa-masa kemudian.

Sumber sejarah zaman Belanda menggambarkan bahwa kondisi geografis Tuban dan alam lingkungannya telah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan kota Tuban sebagai kota perdagangan sejak sebelum kedatangan Belanda. Teluk Tuban dinilai aman dan baik untuk transportasi laut karena kedalamannya yang ideal bagi perahu-perahu besar yang datang.

Tuban sebagai kota pelabuhan, pada dasarnya menjalankan fungsi niaga. Dari wilayah pedalaman ditampung barang-barang local, sedangkan dari wilayah luar ditampung barang-barang impor yang biasanya bermutu tinggi.

Penduduk setempat memperdagangkan barang-barang seperti lada, bermacam-macam jenis burung, tulang penyu, cula badak, gading, mutiara, kayu cendana, rempah-rempah, kapur barus, saffron dan sulfur. Pada masa Majapahit barang dagangan local yang paling utama adalah beras, sedangkan barang-barang impor yang paling disukai adalah porselen pola biru dari Cina, gading, kain sutera bersulam emas dan manik-manik. Bahkan pakaian-pakaian mahal yang menjadi kesukaan golongan elit pada masa Majapahit masih tetap menjadi komoditi yang penting hingga abad ke-16 sebagaimana diberitakan oleh Tome Pires.[6]

Barang-barang komoditi lainnya yang juga diperjual belikan meliputi barang-barang yang terbuat dari tembaga, emas, perak, berbagai macam piring dari emas dan perak, kain damas dan barang-barang pecah belah dari porselen.

Keterangan mengenai barang-barang komoditi tersebut memang masih sangat umum. Gambaran yang lebih spesifik mengenai jenis-jenis komoditi baru bisa diperoleh sesudah Tuban berada di bawah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda.[7]

Kondisi tanah di sekitar kota Tuban yang kurang subur, membentuk karakter masyarakatnya yang memiliki jiwa Enterpreneurship (kewirausahaan) sehingga mata pencaharian mereka lebih condong kepada sektor perdagangan dan maritim. Demikian pula dengan komunitas muslim yang dipimpin oleh Sunan Bonang pada abad XVI M lebih menekankan pada aspek perdagangan dan pelayaran.

Jaringan Perdagangan

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa mulai abad XV seiring dengan perkembangan agama Islam, banyak pedagang dari Arab dan Gujarat yang singgah dan melakukan aktivitas perniagaan di Tuban. Ditinjau dari segi geografis, letak Tuban memang berada pada posisi yang strategis, berada di pantai utara Jawa bagian timur dan berhadapan langsung dengan laut Jawa sehingga banyak disinggahi para pedagang dari barat yang hendak ke Makasar dan Maluku atau sebaliknya. Tuban juga menjadi bagian dari jaringan perdagangan di nusantara selama beberapa abad. Seperti Sriwijaya (abad 7 M sampai dengan abad 14 M), Tuban, Samudra Pasai (abad 13), Gresik dan Malaka (abad 15), Surabaya dan Jepara (abad 15). Kunci Indonesia di sebelah timur terletak pada Makasar, Ternate dan Ambon. Jalan ini dimulai dari Indonesia barat karena di Indonesia barat terdapat Negara-negara yang berpenduduk padat, memanjang ke arah timur kemudian kembali lagi ke barat. Selain dipergunakan sebagai jalan perdagangan jalan ini dipergunakan pula sebagai:

1. Lalu lintas orang

Hilir mudiknya orang antar pulau di Indonesia melewati jalan ini, terutama bagi pedagang, baik pedagang bangsa Indonesia, maupun pedagang bangsa asing misalnya : bangsa India, Cina, Arab, Portugis Belanda dan Inggris.

2. Lalu lintas barang

Dari arah barat ke timur meluncurlah barang-barang yang dibawa oleh pedagang misalnya kain dari India, beras dari Jawa dan lain-lain dibawa ke Maluku. Dari timur ke barat diangkut rempah-rempah dari Maluku, lada dari Sumatra, kapur barus dari Sumatra Utara. Barang-barang yang masuk dari luar Indonesia antara lain porselen, barang pecah belah, sutera dari Tiongkok dan tenun dari India.

3. Lalu lintas kebudayaan dan agama

Penyebaran kebudayaan dan agama juga melalui jalan ini, baik agama Hindu, Budha, Islam maupun Agama Nasrani. Di sekitar jalan ini tumbuhlah kerajaan-kerajaan yang akhirnya berkembang menjadi pusat perdagangan dan agama misalnya Sriwijaya. Pada waktu Islam mulai menyebarkan sayapnya pada abad 15 M muncullah kerajaan-kerajaan Islam dan pelabuhan pusat perdagangan seperti Pasai, Aceh, Banten, Demak, Gresik, Makasar dan Ternate yang sekaligus juga merupakan pusat-pusat penyiaran Islam.[8]

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sejak abad XI M pada masa Kerajaan Kadiri dan Singasari, Kota Tuban telah menjadi kota dagang yang ramai, selain itu Tuban juga menjadi basis kekuatan militer untuk mengantisipasi serangan dari luar. Tuban juga menjadi bagian dari jaringan perdagangan di Nusantara selama berabad-abad. Seiring dengan perkembangan agama Islam (abad XV-XVI M), Tuban menjadi semakin ramai oleh pedagang-pedagang asing yang melakukan aktivitas perdagangan, sebagian dari mereka bahkan menetap dan membentuk suatu komunitas. Tuban telah menjadi kota pedagangan internasional sehingga di dalamnya terjadi interaksi perdagangan, dan secara otomatis juga terjadi penetrasi kebudayaan dan agama. Sejak dulu masyarakat kota Tuban memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi sehingga mendukung terjadinya kegiatan perniagaan yang menjadikan masyarakat Tuban unggul dalam ekonominya.

Kepustakaan

Al Qurtubi, Sumanto, 2003, Arus Cina-Islam-Jawa, Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV-XVI, Jakarta, Inspeal Ahimsakarya Press

Kartodirjo, Sartono, Marwati D. Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1977,Sejarah Nasional Indonesia (jilid III), Jakarta

Kasdi, Aminudin, 2005, Kepurbakalaan Sunan Giri, Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia Asli, Hindu-Budha dan Islam Abad 15-16, Surabaya, UNESA University Press

Purwadi, Dr., M.Hum & Maharsi, SS, M.Hum, 2005, Babad Demak, Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa, Yogyakarta, Tunas Harapan

Suwandi, 2003, Perkembangan Kota Gresik Sebagai Kota Dagang pada Abad XV-XVIII, Kajian Sejarah Lokal Berdasarkan Wawasan Sosial Ekonomi, Surabaya, UNESA University Press

Yayasan Festival Wali Songo, 1999, Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Wali Songo, Surabaya, Penerbit SIC

Yuanzhi, King, Prof., 2000, Muslim Tionghoa Chengho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta, Pustaka Populer Obor


[1] Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS UNESA, angkatan 2005, NIM: 054284025

[2] Dr. H. A. Khozin Affandi, MA et al, Sunan Bonang, dalam Yayasan Festival Wali Songo, Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Wali Songo, YFWS & Penerbit SIC, Surabaya,  1999, hal : 160

[3] Ibid, hal: 161

[4] Prof. King Yuanzhi, Muslim Tionghoa Chengho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Pustaka Populer  Obor, Jakarta, 2000, hal: 107

[5] Dr. H. A. Khozin Affandi, MA et al, op. cit, hal: 161

[6] Ibid, hal : 164

[7] Ibid.

[8] Prof. Dr. Aminudin Kasdi, Kepurbakalaan Sunan Giri, Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia Asli, HIndu-Budha dan Islam Abad 15-16, UNESA University Press, Surabaya, 2005, hal: 10

Posted in Alam Ide | Tagged , , , , , | Leave a comment

BATIK TUBAN SEBAGAI KHASANAH BUDAYA BANGSA PERKEMBANGAN BENTUK RAGAM HIAS BATIK TUBAN

Suminto Fitriantoro, S.Pd

Guru Sejarah SMA N 1 Senori-Tuban, alumnus Unesa Pendidikan Sejarah ’05

A. Abstrak

Batik sebagai wujud nyata seni rupa dengan latar belakang sejarah dan unsur budaya yang kuat dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi dasar identitas bangsa hingga saat ini yang menyangkut kebinekaan budaya Indonesia.  Keindahan wastra batik dapat dilihat atas dua hal, keindahan secara visual yang dapat dilihat melalui ragam hias batik dan keindahan makna filosofi yang terkandung pada fungsi batik itu sendiri. Ragam hias batik bukan sekedar gambar yang ditempel, melainkan mampu memberikan nuansa keindahan.

Batik Tuban merupakan salah satu produk batik pesisir yang mempunyai bentuk ragam hias yang khas, yang berbeda dengan batik-batik pesisir lainnya. Tuntutan pasar dan pengaruh jaman membuat ragam hias asli batik Tuban tergeser oleh berbagai ragam hias dengan kreasi baru dan latar warna yang cerah. Hal ini membuat para pembatik Tuban melakukan perkembangan untuk menciptakan berbagai ragam hias baru untuk menjadikan ragam hias batik Tuban lebih bervariasi dan menarik.

Kata Kunci : Perkembangan, Ragam Hias, Batik

B. Pendahuluan

Seni batik merupakan bentuk seni budaya bangsa yang kaya dengan nilai-nilai estetis dan nilai filsafat yang mencerminkan nafas kehidupan manusia dan alam lingkungannya[1]. Batik  berkaitan dengan nilai dan simbol yang merupakan bagian dari warisan budaya. Batik dapat dikatakan  sebagai bagian dari warisan budaya karena ada dua hal yang menjadi dasar utama, yang  pertama, adanya suatu “kolektivitas” yang lebih luas yang dalam hal ini adalah masyarakat sebagai pewaris produk budaya tersebut secara kebendaan. Kedua, batik mempunyai makna filosofis, pandangan hidup, kearifan lokal dan sebagainya[2]. Para pembatik menghasilkan rancangan batik melalui proses pengendapan diri, meditasi untuk mendapatkan bisikan-bisikan hati nuraninya, yang diibaratkan mendapatkan wahyu. Membatik bukan sekedar aktivitas fisik tetapi mempunyai dimensi ke dalaman, mengandung doa atau harapan dan pelajaran. Keindahan sehelai wastra batik mempunyai dua aspek, yaitu keindahan yang dapat dilihat secara kasat mata yang diwujudkan melalui ragam hias batik, keindahan semacam ini disebut sebagai keindahan visual  yang diperoleh karena perpaduan yang harmoni dari susunan bentuk dan warna melalui penglihatan atau panca indera dan keindahan karena mempunyai makna filosofi atau disebut juga keindahan jiwa yang diperoleh karena susunan arti lambang ornamen-ornamennya yang membuat gambaran sesuai dengan faham kehidupan atau didasarkan pada fungsi batik.

Ragam hias batik hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual, yang dari proses penciptanya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan sebagai pelengkap rasa estetika[3]. Ragam hias pada suatu benda seni pada dasarnya sebagai pedandan (make-up) yang diterapkan guna mendapatkan keindahan dan kemolekan yang dipadukan. Hal itu berperan sebagai media untuk mempercantik benda pakai secara lahiriah, bahkan satu dua daripadanya memiliki nilai simbolik atau mengandung makna tertentu[4]. Batik Tuban adalah salah satu produk batik pesisiran yang mempunyai ragam hias yang khas, yang tidak terdapat di daerah-daerah produksi batik lainnya. Ragam hias batik Tuban sering disebut sebagai ragam hias asli batik pesisir. Selain itu, batik Tuban juga disebut sebagai batik petani atau batik desa, karena sebagaian besar dibuat oleh masyarakat kalangan petani di pedesaan yang dijadikan sebagai pekerjaan sambilan[5].

Uswatun memaparkan bahwa, ragam hias batik Tuban mengalami perkembangan sekitar tahun 1980. Hal itu didasarkan atas dual hal, pertama, adanya tuntutan jaman dan permintaan pasar yang menyebabkan bentuk-bentuk ragam hias asli Tuban tidak menarik lagi dan kurang diminati oleh masyarakat. Kedua, adanya penyuluhan dan pelatihan tentang proses pewarnaan dari Dinas Perindustrian Kabupaten Tuban baik melalui Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) maupun pengrajin secara langsung[6]. Perkembangan bentuk ragam hias batik Tuban sebagai akibat dari adanya komunikasi atau hubungan antardaerah pembatikan[7]. Masuknya motif-motif dari luar daerah tersebut pada batik Tuban bukan berarti menggeser atau menghilangkan motif khas Tuban, namun mampu menambah perbendaharaan eksistensi ragam hias batik Tuban menjadi beragam dan unik. Hail itu dikarenakan masyarakat Tuban sebagai bagian dari masyarakat Jawa memiliki karakteristik dan kepribadian untuk menyeleksi, memilah-milah pengaruh budaya luar lingkungannya untuk kemudian disaring dan disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat yang telah ada yang disebut dengan local genious [8] .

Continue reading

Posted in Alam Ide | Tagged , , , | Leave a comment

REFLEKSI KEPEMIMPINAN KERTANEGARA

Oleh:

Suminto Fitriantoro

A. Abstrak

Kertanegara represent figure a coherent and smart leader, and also major nation integrity. Experiences of Kertanegara during becoming young king below its father tuition of Wisnuwardhana form its personality as a leader. During becoming leader of Kertanegara can bring Singhasari  his golden top, He arrange governance of home affairs systematically, and also overseas politics of him focussed by  extension of cakramandala. Coherence of stand-out Kertanegara of its attitude refuse eamperor of Kubhlai Khan to confess power of Empire of Tiongkok. Deduction conducted by Kertanegara that is by harsh namely hurt face of Meng Ki, courier of Kubhlai Khan. Action mentioned as betrayal form to glorious emperor of Kubhlai Khan which is on at that time have wide of power area.

Kata Kunci : Pemimpin, Kertanegara

Continue reading

Posted in Alam Ide | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Belajar Islam sampai Negeri Cina

Bukan orang Arab dan India saja yang mengembangkan Islam di Nusantara. Abad ke 15 telah berdiri rezim muslim Tionghoa di Jawa. Ia berhasil merobohkan kedigdayaan Majapahit. Alkisah, sang laksamana dari Dinasti Ming mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak. Ketika berlabuh di kawasan Asia Tenggara, kapal itu berkali-kali menepi ke bibir pantai, antara lain di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Jawa. Pelayaran itu terjadi pada tahun 1405 M.

Di kepulauan Nusantara, mereka berlabuh di darmaga Samudera Pasai. Laksamana yang lahir tahun 1371 M itu menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Juga, menyempatkan diri kunjung ke Palembang dan Bangka. Iring-iringan armada kapal bergerak ke arah Timur. Ia singgah di Bintang Mas, kini Tanjung Priok Jakarta, dan Muara Jati, Cirebon, Jawa Barat, secara berurutan. Saat menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong, salah seorang pimpinan armada, sakit keras. Mereka mendarat di pantai Simongan, Semarang, dan tinggal sementara. Namun, Wang akhirnya meumutuskan untuk menetap. Dialah cikal bakal warga Tionghoa di tempat ini. Sebagai rasa hormat, Wang mengabadikan Ceng Ho, laksamana pemimpin armada, menjadi sebuah patung, serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.

Continue reading

Posted in Alam Ide | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

PERANG SALIB DAN DAMPAKNYA DALAM SEJARAH DUNIA[1]

Oleh: Jhota Bangkit Andaka[2]

Eropa pada abad pertengahan (800-1400 M) disebut pula sebagai masa kegelapan (dark age). Dominasi kekuasaan dan dogma-dogma gereja begitu kuat mempengaruhi segala aspek kehidupan bangsa-bangsa Eropa. Paus adalah pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik yang sangat ditaati seluruh raja di Eropa.

Perang salib dipicu oleh adanya pembatasan ketat terhadap umat Kristen Eropa yang hendak berziarah ke Yerusalem oleh bangsa Turki dari dinasti Seljuk. Paus Urbanus II (Pope Urban II) kemudian menyerukan agar raja-raja di seluruh Eropa mengirimkan Tentara Salib (Crusader) untuk merebut Yerusalem dari tangan penguasa muslim. Karena peranannya dalam memobilisasi Tentara Salib inilah, Michael Hart memasukkan Paus Urbanus II dalam buku fenomenalnya; “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”. Tentara Salib terdiri dari dua ordo (kelompok) besar, yaitu Hospitaler dan Ksatria Templar yang lebih radikal. Mereka kebanyakan direkrut dari golongan rakyat kelas bawah dan orang-orang yang dianggap sampah masyarakat di Eropa. Pada kenyataannya, pada waktu perang salib, mereka tidak hanya membunuh orang-orang Islam tetapi juga membunuh umat Kristen yang berasal dari sekte-sekte gereja Timur.

Continue reading

Posted in Alam Ide | Tagged , , , , , | Leave a comment

Mengurai Masalah Guru (Swasta)

Oleh Doni Koesoema A

Persoalan nasib guru swasta yang merasa dianaktirikan dan diperlakukan tidak adil kian mencuat ke publik. Polarisasi antara guru swasta dan negeri sebenarnya bukan persoalan utama yang kita hadapi.

Masalah utama yang menjadi pangkal perdebatan adalah tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi martabat profesi guru, tidak peduli apakah itu guru negeri, swasta, tetap, maupun honorer.

Dua kekuatan

Sebenarnya, nasib guru lebih banyak ditentukan dua kekuatan, yaitu kekuatan negara dan kekuatan masyarakat. Kekuatan negara terhadap guru bersifat memaksa dan mengatur. Ini terjadi karena negara berkepentingan hanya mereka yang memiliki kompetensi dan layak mengajar di kelaslah yang boleh berdiri di depan kelas. Karena itu, negara mengatur berbagai macam kompetensi yang harus dimiliki guru sebelum mereka boleh mengajar di dalam kelas. Kualifikasi akademis, sertifikasi, kemampuan sosial, dan keterampilan pedagogis adalah hal-hal yang harus dikuasai guru. Berhadapan dengan aturan negara yang koersif ini, para guru tidak dapat berbuat apa-apa selain harus menyesuaikan diri. Sebab inilah satu-satunya cara agar profesi guru tetap berfungsi efektif dalam lembaga pendidikan.

Continue reading

Posted in Alam Ide | Tagged , , | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment