BATIK TUBAN SEBAGAI KHASANAH BUDAYA BANGSA PERKEMBANGAN BENTUK RAGAM HIAS BATIK TUBAN

Suminto Fitriantoro, S.Pd

Guru Sejarah SMA N 1 Senori-Tuban, alumnus Unesa Pendidikan Sejarah ’05

A. Abstrak

Batik sebagai wujud nyata seni rupa dengan latar belakang sejarah dan unsur budaya yang kuat dalam perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi dasar identitas bangsa hingga saat ini yang menyangkut kebinekaan budaya Indonesia.  Keindahan wastra batik dapat dilihat atas dua hal, keindahan secara visual yang dapat dilihat melalui ragam hias batik dan keindahan makna filosofi yang terkandung pada fungsi batik itu sendiri. Ragam hias batik bukan sekedar gambar yang ditempel, melainkan mampu memberikan nuansa keindahan.

Batik Tuban merupakan salah satu produk batik pesisir yang mempunyai bentuk ragam hias yang khas, yang berbeda dengan batik-batik pesisir lainnya. Tuntutan pasar dan pengaruh jaman membuat ragam hias asli batik Tuban tergeser oleh berbagai ragam hias dengan kreasi baru dan latar warna yang cerah. Hal ini membuat para pembatik Tuban melakukan perkembangan untuk menciptakan berbagai ragam hias baru untuk menjadikan ragam hias batik Tuban lebih bervariasi dan menarik.

Kata Kunci : Perkembangan, Ragam Hias, Batik

B. Pendahuluan

Seni batik merupakan bentuk seni budaya bangsa yang kaya dengan nilai-nilai estetis dan nilai filsafat yang mencerminkan nafas kehidupan manusia dan alam lingkungannya[1]. Batik  berkaitan dengan nilai dan simbol yang merupakan bagian dari warisan budaya. Batik dapat dikatakan  sebagai bagian dari warisan budaya karena ada dua hal yang menjadi dasar utama, yang  pertama, adanya suatu “kolektivitas” yang lebih luas yang dalam hal ini adalah masyarakat sebagai pewaris produk budaya tersebut secara kebendaan. Kedua, batik mempunyai makna filosofis, pandangan hidup, kearifan lokal dan sebagainya[2]. Para pembatik menghasilkan rancangan batik melalui proses pengendapan diri, meditasi untuk mendapatkan bisikan-bisikan hati nuraninya, yang diibaratkan mendapatkan wahyu. Membatik bukan sekedar aktivitas fisik tetapi mempunyai dimensi ke dalaman, mengandung doa atau harapan dan pelajaran. Keindahan sehelai wastra batik mempunyai dua aspek, yaitu keindahan yang dapat dilihat secara kasat mata yang diwujudkan melalui ragam hias batik, keindahan semacam ini disebut sebagai keindahan visual  yang diperoleh karena perpaduan yang harmoni dari susunan bentuk dan warna melalui penglihatan atau panca indera dan keindahan karena mempunyai makna filosofi atau disebut juga keindahan jiwa yang diperoleh karena susunan arti lambang ornamen-ornamennya yang membuat gambaran sesuai dengan faham kehidupan atau didasarkan pada fungsi batik.

Ragam hias batik hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai media ungkapan perasaan yang diwujudkan dalam bentuk visual, yang dari proses penciptanya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh lingkungan sebagai pelengkap rasa estetika[3]. Ragam hias pada suatu benda seni pada dasarnya sebagai pedandan (make-up) yang diterapkan guna mendapatkan keindahan dan kemolekan yang dipadukan. Hal itu berperan sebagai media untuk mempercantik benda pakai secara lahiriah, bahkan satu dua daripadanya memiliki nilai simbolik atau mengandung makna tertentu[4]. Batik Tuban adalah salah satu produk batik pesisiran yang mempunyai ragam hias yang khas, yang tidak terdapat di daerah-daerah produksi batik lainnya. Ragam hias batik Tuban sering disebut sebagai ragam hias asli batik pesisir. Selain itu, batik Tuban juga disebut sebagai batik petani atau batik desa, karena sebagaian besar dibuat oleh masyarakat kalangan petani di pedesaan yang dijadikan sebagai pekerjaan sambilan[5].

Uswatun memaparkan bahwa, ragam hias batik Tuban mengalami perkembangan sekitar tahun 1980. Hal itu didasarkan atas dual hal, pertama, adanya tuntutan jaman dan permintaan pasar yang menyebabkan bentuk-bentuk ragam hias asli Tuban tidak menarik lagi dan kurang diminati oleh masyarakat. Kedua, adanya penyuluhan dan pelatihan tentang proses pewarnaan dari Dinas Perindustrian Kabupaten Tuban baik melalui Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) maupun pengrajin secara langsung[6]. Perkembangan bentuk ragam hias batik Tuban sebagai akibat dari adanya komunikasi atau hubungan antardaerah pembatikan[7]. Masuknya motif-motif dari luar daerah tersebut pada batik Tuban bukan berarti menggeser atau menghilangkan motif khas Tuban, namun mampu menambah perbendaharaan eksistensi ragam hias batik Tuban menjadi beragam dan unik. Hail itu dikarenakan masyarakat Tuban sebagai bagian dari masyarakat Jawa memiliki karakteristik dan kepribadian untuk menyeleksi, memilah-milah pengaruh budaya luar lingkungannya untuk kemudian disaring dan disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat yang telah ada yang disebut dengan local genious [8] .

C. Sejarah Batik Indonesia

Pandangan pertama mengenai asal-usul batik berasal dari luar, yang dalam hal ini batik bukan asli kebudayaan Indonesia adalah pendapat dari G.P. Rouffaer memaparkan bahwa seni batik yang ada di Indonesia berasal dari India yang dibawa oleh orang-orang Kalingga-Koromandel (India) yang beragama Hindhu ke Jawa pada abad 4 M, sebagai akibat dari adanya kontak perdagangan[9]. Perkembangan batik dari Kalingga- Koromandel berjalan sampai pada periode pengaruh Hindhu berakhir, yaitu pada jaman kerajaan Daha di Kediri[10]. Sudarsono mengatakan bahwa warna batik klasik yang terdiri dari tiga warna (coklat identik dengan merah, biru identik dengan hitam dan kuning atau coklat muda identik dengan warna putih), ketiga warna ini  mempunyai alegori sesuai dengan tiga konsep dewa Hindhu yaitu Trimurti. Menurut Kuswadji Kawindrosusanto[11] menuturkan bahwa, warna coklat atau merah merupakan lambang Dewa Brahma atau lambang keberanian, biru atau hitam merupakan lambang Dewa Wisnu atau lambang ketenangan, dan kuning atau putih lambang dewa Siwa.  Hal ini menunjukkan peran orang-orang India (Hindhu) dalam keberadaan batik di Indonesia[12]. Sementara itu, Pigeaut mencatat, bahwa perihal pembuatan batik tidak disebut-sebut dalam naskah-naskah Jawa pada abad XIV, kemungkinan batik pada waktu itu diimpor secara langsung dari India[13] .

Pandangan kedua mengganggap bahwa seni batik memiliki akar sejarah yang sangat kuat di Indonesia, yakni batik merupakan kebudayaan asli Indonesia (cultural Identity). Dr. J.L.A. Brandes dalam teorinya “Brandes ten is point” menempatkan batik sebagai kebudayaan pra-sejarah yang sejaman dengan kebudayaan seperti gamelan, wayang, syair, barang-barang dari logam, pelayaran, ilmu falak dan pertanian. Wirjosaputro[14], menyatakan bahwa bangsa Indonesia sebelum mendapat pengaruh dari kebudayaan India telah mengenal aturan-aturan menyulam untuk teknik membuat kain batik, industri logam dan penanaman padi. Temuan teknik membuat batik semakin menguatkan betapa batik sudah menjadi milik kebudayaan Indonesia jauh sebelum bersentuhan dengan India. Di tinjau dari desainnya batik India mencapai puncaknya pada abad XVII M sampai XIX M, sedangkan di Indonesia batik mencapai puncaknya pada abad XIV M sampai XV M, selain itu juga motif-motif seperti kawung, ceplok dan cinde tidak terdapat di Kalingga-Koromandel (India)[15]. Eksistensi batik pada masa lalu dapat ditelusuri melalui berbagai ragam hias pada batik klasik yang dapat dikaitkan dengan benda-benda purbakala peninggalan Hindhu-Jawa, seperti yang diungkapkan oleh S.K.Sewan Susanto  sebagai berikut[16]:

1. Motif lereng

Terdapat sebagai motif dari pakaian pada patung dewa Siwa (dari emas) terdapat dari daerah Gemuruh, Wonosobo, dekat Dieng (candi Dieng, abad ke-9 M), dan terdapat pada patung Manjusri yang terdapat di daerah semongan, Semarang abad ke-10 M

2. Motif ceplok

Dasar motif ceplok dari yang sederhana sampai yang bervariasi, terdapat gambaran pada :

a.       Patung Padmapani abad ke-8 sampai abad ke-10, dari Jawa Tengah..

b.      Patung Ganesha pada candi Banon (dekat Borobudur) abad ke-9.

c.       Patung Brahma dari Singasari, berbentuk lingkaran-lingkaran yang diberi isen dan hiasan segi empat disusun berselang-seling.

3. Dasar motif kawung

Dasar motif kawung dari yang sederhana sampai yang bervariasi dengan bentuk-bentuk isen, terdapat gambaran pada :

a.       Patung Parwati dari Jawa (jaman candi abad ke-8 sampai ke-10M) digambarkan kawung sederhana bentuk kecil

b.      Patung Ganesha abad ke-13 M dari Kediri.

c.       Patung Pradnyaparamita dari Malang Abad ke-14 M

d.      Motif kawung lebih sempurna terdapat pada patung Syiwa dari Singasari dan

e.       Patung Syiwa Mahadewa dari Tumpang Jawa Timur.

4. Motif Semen

Gambaran motif semen (meru, pohon hayat, tumbuhan, mega, dan candi) terdapat pada :

a.       Hiasan makam Sendang Dhuwur-Paciran , Lamongan (1585 AD)

b.      Hiasan dinding dari masjid tua pada kompleks makam Ratu Kalinyamat di Mantingan-Jepara (1559 AD)

5. Motif Sidomukti

Gambaran motif sidomukti terdapat pada :

a.       Patung Ganesha dari Singasari (abad ke-13), bentuk motif ini dihiasi dengan bentuk garuda sederhana dan tengkorak

b.      Patung Durga terdapat pada candi Singasari, pada kain tapih digambarkan motif kotak-kotak segi empat.

6. Motif Mega-Mendung

Berasal dari Cirebon, terdapat pada motif batik, maupun sebagai ukiran. Motif yang menyerupai motif mega-mendung adalah motif Padasan dan Rajek Wesi.

7. Pemakaian isen-isen cecek-sawut

Pemakaian cecek-sawut, yaitu gabungan antara deretan titik-titik dengan garis-garis sejajar, digambarkan dengan jelas, pada hiasan dari genderang-perunggu, ditemukan di Sangeang, gunung api dekat Bima. Barang ini dari zaman perunggu, isen motif berupa cecek-sawut ini tidak terdapat pada batik Indonesia.

8. Pemkaian titik-titik dalam motif

Motif yang menggunakan titik-titik, bentuk titik masih besar-besar, digambarkan pada pakaian Padmapani, dari zaman kebudayaan periode Jawa Tengah abad VIII M-X M. Titik-titik banyak digunakan pada pengisian motif batik, berupa deretan titik-titik atau kumpulan titik-titik.

Alfred Stainmann menyatakan bahwa batik tidak hanya di Indonesia saja, melainkan juga di negara lain seperti Cina, Rusia dan Thailand[17] . Batik di Cina pada abad pertengahan disebut dengan “yapan”, sedangkan pada jaman dinasti T’ang (620-907) disebut “miao”. Batik di Rusia dikenal dengan nama “bhakora” sedang di Thailand desebut “pharung”. Hal senada juga diungkapkan oleh Moh. Yamin bahwa pada jaman kedatuan Sriwijaya ada hubungan timbal-balik yang erat antara Sriwijaya dengan Tiongkok pada abad ke-7 sampai abad ke-9 pada masa dinasti Sung atau T’ang[18]. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan batik ada dan muncul karena pengaruh dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Cina, karena Cina berhubungan baik dengan Sriwijaya.

D. Fungsi Batik

Tradisi Jawa sangat menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai etis dan estetis dalam berpakaian “Ajining Diri Saka Lati, Ajining Raga Saka Busana” (kehormatan diri terletak pada kata-kata, kehormatan badan terletak pada pakaian)[19]. Penggunaan batik secara tradisional hanya untuk bebet dan jarit, sarung, dodot, selendang, ikat kepala atau udeng dan kemben seperti yang diungkapkan oleh Biranul Annas sebagai berikut[20]:

Bebet dan Jarit merupakan kain yang berbentuk empat persegi panjang yang dililitkan mengelilingi pinggang. Panjangnya hingga pergelangan kaki, dengan lebar beragam antara 100 cm hingga 110 cm, sedangkan panjangnya kira-kira mencapai 250 cm[21]. Bebet dikenakan oleh pria biasanya dengan lipatan kain besar-besar dan dililitkan ke arah kanan ke kiri. Jarit dipakai oleh wanita, dikenakan dengan cara dililitkan ke bagian badan mulai dari arah kiri ke kanan, biasanya ditambah dengan lipatan-lipatan (wiru atau wiron) tipis dibagian depannya[22]. Sarung ialah kain yang dijahitkan antarsisi-sisi terpendeknya. Lebarnya hampir sama dengan kain panjang atau jarit, tetapi panjangnya hanya mencapai antara 180 cm hingga 220 cm[23]. Sarung merupakan pakaian khas di pesisir uatara Jawa dan merupakan kostum asli masyarakat Melayu dan telah dipakai di seluruh kepulauan Indonesia. Pada umumnya bentuk rancangan sarung berisikan dua unsur dasar, yaitu badan dan kepala. Badan merupakan bagian paling lebar dari kain, memiliki luas bidang ¾ panjang sarung. Kemudian kepala pada dasarnya berupa alur bidang menyela ragam hias utama sarung, menempati ¼ panjang kain dan memotong besar kain. Kepala berada tegak lurus pada lebar bidang sarung, biasanya terletak ditengah atau di ujung sarung. Jenis kepala model lama memiliki ragam hias dengan dua buah deretan segitiga memanjang yang dinamakan tumpal[24].

Dodot merupakan wastra batik yang memiliki matra sangat khusus karena hanya dipakai dilingkungan kraton atau pada acara yang berkaitan dengan upacara adat kraton. Dodot dikenakan sebagai hak istimewa keluarga kerajaan dan hanya dipakai oleh Sultan, pengantin pria atau wanita dan penari kraton[25]. Dodot dikenakan, dihiasi dan dilipat layaknya gaun panjang dengan rentean atau ekor dari serat yang menggantung pada salah satu sisinya, disertai dengan celana panjang sutra yang digunakan disebelah dalam dengan penonjolan corak pada celana panjang. Selendang merupakan kain panjang tipis yang dipakai untuk keperluan khusus oleh wanita[26]. Kain ini dikenakan pada bahu dan dapat pula digunakan untuk menggendong bayi atau membawa keperluan pasar. Selendang gendongan yang digunakan di dalam kraton berukuran sama dengan jarit, yakni panjangnya kurang lebih 260 cm dan lebarnya 110 cm dengan kedua ujungnya diberi garis-garis putih berseling hitam selebar dua jari[27].

Ikat kepala atau udeng merupakan busana tambahan untuk kaum pria berbentuk bujur sangkar serta pemakainnya diikatkan secara luwes dan anggun pada kepala seperti layaknya surban[28]. Kemben merupakan kain tipis sebagai penutup tubuh bagian atas (torso) wanita[29]. Kemben digunakan untuk mengamankan kain atau sarung agar posisinya tidak melorot. Kemben dikenakan dengan cara dibebatkan di bagian atas tubuh mulai di bawah ketiak dengan pinggir bawah sedikit menutupi bagian atas jarit, selain itu kemben sering dipakai bersamaan dengan kebaya. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan batik tidak terbatas untuk busana tradisional saja, tetapi berkembang lebih luas lagi antara lain digunakan sebagai alat perlengkapan rumah tangga (seperti : gorden, taplak meja, sprei, hiasan dinding, alas kursi, tas, dan sebagainya) serta sebagai busana non-tradisional (kemeja pria, gaun, dan sebagainya)[30].  Selain itu, batik juga berfungsi sebagai ekspresi diri, yakni batik digunakan untuk mengekspresikan jiwa seniman. Batik sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan seniman.

E. Ragam Hias Batik

Watak yang paling menonjol dari bangsa Indonesia ialah kemampuan mengungkapkan ekspresi artistik. Sejak jaman prasejarah masyarakat Indonesia telah terampil melukis dinding-dinding gua. Kebutuhan terhadap ungkapan artistik tersebut kemudian disalurkan pada penganekaan ragam hias yang dijumpai di berbagai barang keperluan hidup termasuk di dalamnya produk-produk tekstil. Dorongan akan kebutuhan artistik pada tekstil membuka berbagai kemungkinan teknik penciptaan ragam hias  pada batik. Secara garis besar bentuk ragam hias batik dapat dibagi kedalam empat kelompok yaitu, pertama, ragam hias yang tergolong dalam bentuk geometris. Kedua, ragam hias yang tergolong dalam ragam hias non-geometris, ketiga, kelompok ragam hias dengan bentuk stilasi, dan keempat, kelompok ragam hias bebas[31].

1. Ragam Hias Geometris

Ragam hias geometris disebut pula sebagai ragam hias ilmu ukur. Eksistensi ragam hias bentuk geometris sudah cukup tua. Hal itu dibuktikan melalui hasil penelitian oleh beberapa ahli antropologi dan arkeologi bahwa ragam hias geometris ditemukan melalui peninggalan-peninggalan masa lampau diantaranya terbukti dari benda-benda purbakala[32]. Ragam hias geometris disusun oleh motif-motif geometris pula. Adapun beberapa motif yang tergolong ke dalam ragam hias geometris sebagai berikut:

a Golongan Motif Banji (swastika)

Motif banji merupakan dasar ornamen swastika yang disusun dengan tiap ujungnya. Nama “bandji” berasal dari tionghoa yang berasal dari kata “ban” berarti sepuluh dan “dzi” berarti beribu perlambang murah rejeki atau kebahagiaan yang berlipat ganda[33].  Swastika tersebut dihubungkan satu sama lain dengan garis-garis. Ragam hias swastika menggambarkan lambang peredaran bintang-bintang dan lebih khususnya adalah lambang peredaran matahari[34]. Dalam seni batik ragam hias swastika dipakai untuk mengisi bidang kain, yang terdiri dari gambar-gambar bergaris lurus, tetapi ada juga swastika yang dilukis menyerupai bentuk meander seperti pada ragam hias sebuah candi, yang disebut dengan ragam hias “ikal/kait”.

b Golongan Motif Ganggong

Golongan motif ini tersusun dalam tata susunan segitiga empat sisi (bujur sangkar). Motif ganggong sekilas hampir menyerupai motif ceplok, namun perbedaanya terletak pada bentuk isennya yang terdiri dari garis-garis yang panjangnya sama, sedang ujung garis yang paling panjang merupakan bentuk salib, tetapi pada motif ceplok tidak terdapat bentuk garis tersebut[35].

c Golongan Motif Ceplok

Motif ceplok merupakan motif batik yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran binatang dengan bentuk segi empat, lingkaran dan variasinya. Ornamen yang terdapat dalam motif ini menggambarkan bunga dari depan dan daun yang tersusun dalam lingkaran segi empat[36].

d Golongan Motif Nitik dan Anyaman

Dikatakan sebagai motif anyaman karena variasi dari cara menyusun titik-titik sekilas menyerupai bentuk anyaman. Motif nitik adalah semacam ceplok yang tersusun oleh garis-garis putus, titik dan variasinya yang tersusun menurut bidang geometris seperti halnya motif ceplok dan motif ganggeng[37].

e Golongan Motif Kawung

Motif ini menggambarkan biji buah kawung/ buah aren yang tersusun diagonal dua arah. Susunan biji-bijian tersebut sangat rapi yaitu empat buah bentuk oval yang tersusun dalam sebuah lingkaran, pada masa Hindu-Budha motif kawung berasal dari tengkorak seperti yang terdapat dalam arca Ganesha di Blitar namun pada masa Islam motif kawung mengalami pergeseran dalam interpretasi yakni berasal dari buah aren atau kolang-kaling yang memberikan makna eling (ingat).

f Golongan Motif Parang

Ada beberapa tafsiran yang berbeda dalam mengartikan corak ini. Pertama, lukisan parang yang tertekuk adalah pedang yang tidak sempurna atau rusak, sehingga corak ini bermakna kurang baik dan hanya mereka yang memiliki kekuatan tertentu saja yang dapat menangkal pengaruh buruk ragam hias tersebut. Parang rusak juga mempunyai makna sebagai pedang untuk melawan kejahatan dan kebatilan sehingga hanya boleh dipakai oleh orang-orang yang berkuasa yaitu raja dan penguasa. Kedua, corak ini juga diartikan sebagai lambang pertumbuhan, penuh kekuatan, dan kecepatan yang dipresentasikan oleh lambang khas raja yaitu bunga lotus (teratai). Parang rusak juga dinggap simbol kesucian dan kekuatan seperti Tuhan[38], sedangkan pada motif parang rusak barong menggambarkan roh jahat yang selalu menyerang manusia jadi kain batik dengan motif parang rusak barong ini menggambarkan suatu kekuasaan untuk menyerang musuh (roh jahat)[39].

2 Ragam hias non-geometris

Motif- motif yang termasuk golongan non-geometris yaitu motif-motif semen dan buketan terang bulan. Motif-motif golongan non-geometris tersusun dari ornamen-ornamen meru, tumbuhan (pohon hayat), candi, burung garuda, naga atau ular yang tersusun secara harmoni tetapi tidak menurut bidang-bidang geometris.

a Golongan Motif Semen

Motif semen melambangkan kekuatan, sumber dari segala keberadaan dan pusat kekuasaan[40]. Semen berasal dari kata “semi” yang artinya tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari hidup dan gerak, dalam kehidupan flora diidentikkan dengan daun. Motif semen pada batik adalah motif yang mengandung gambar meru atau gunung beserta flora dan fauna yang hidup disekitarnya.

b Golongan Motif Buketan dan Terang Bulan

Motif buketan merupakan motif dengan mengambil tumbuh-tumbuhan atau lung-lungan sebagai ornamen atau hiasan yang disusun memanjang selebar kain, sedangkan yang dimaksud dengan terang bulan ialah kain batik yang kebanyakan dibuat untuk wanita (tapih), dibagian bawah terdapat bentuk segitiga atau tumpal.

3 Ragam Hias Stilasi

Pada dasarnya ragam hias stilasi murapakan penyederhanaan dari bentuk, teknik, detail dan anatominya. Stilasi atau penyederhanaan bentuk tersebut banyak diterapkan untuk menciptakan bentuk-bentuk ornamen seperti bentuk-bentuk tumbuhan, binatang dan manusia. Penggambaran bentuk ragam hias baik berupa tumbuhan, hewan maupun manusia secara utuh mengalami stilasi setelah masuknya pengaruh kesenian Islam di Nusantara. Dalam ajaran Islam, penggambaran makhluk hidup baik manusia maupun binatang secara keseluruhan dilarang, sebab menyebabkan penyekutuan terhadap Allah SWT, seperti salah satu haditsh yang diriwayatkan oleh Buchori bahwa “Sesungguhnya orang yang mendapat siksa oleh Allah adalah orang-orang yang membuat gambar”[41].

4 Ragam Hias Bebas

Penciptaan ragam hias bebas tidak menitik beratkan kepada unsur alam. Bentuk yang ditampilkan tidak sepenuhnya mengambil dari objek alam. Keluwesan dari bentuk-bentuk ragam hias bebas adalah tidak dibatasi oleh unsur-unsur alam saja, ruang lingkupnya lebih luas mulai dari aspek yang realis sampai aspek yang abstrak. Ragam hias bebas lebih banyak ditentukan oleh faktor kreasi. Ragam hias ini banyak memberi keleluasaan bagi para pendesain karena tidak dibatasi oleh kaidah yang baku, sehingga para pendesain banyak mengungkapkan kreasi dan keleluasaan dalam menciptakannya[42].

G. Perkembangan Bentuk Ragam Hias Batik Tuban

Ragam hias pada batik Tuban berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Tuban sebagai akibat dari adanya proses interaksi antar daerah pembatikan[43]. Pada mulanya pengrajin batik Tuban tidak menciptakan ragam-ragam hias dari batik tradisonal seperti motif kawung, motif garuda, motif sidomukti, dan geringsing, tetapi dalam perkembangan batik Tuban motif-motif dari batik tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan ragam hias asli batik Tuban dan diberi nuansa yang berbeda[44].

Onggal Sihite dalam tesisnya[45] menjelaskan bahwa motif kawung merupakan penggambaran dari daun kelapa yang bentuknya di distorsi dan disusun silang, yang menggambarkan struktur dari jagad raya, pusat persilangannya merupakan sumber energi, dan miniatur dari jagad raya adalah kerajaan dan wakil Tuhan sebagai penguasa jagad raya adalah raja atau sultan selaku penguasa dan wakil Tuhan di muka bumi dalam artian wilayah Kraton. Motif kawung pada batik Tuban dipadukan dengan motif buketan berupa motif lung-lungan dalam bentuk patra gumulung kemudian diberi nama kawung buket. Penciptaan motif kawung yang lain pada batik Tuban juga dipadukan dengan motif-motif binatang seperti kupu-kupu yang terlihat pada motif pecethot beton. Penciptaan motif kawung yang lain pada batik Tuban juga terlihat pada motif dudo brengos, pada motif ini kawung dipadukan dengan motif suluran tepat pada bidang tengah kain.

Penggambaran motif garuda sebagian besar terdapat pada batik-batik tradisional di lingkungan Kraton seperti yang terlihat pada motif lar sawat, garuda ageng, semen gurdha dan sebaginya. Motif garudha pada batik Kraton menyiratkan makna simbolis yang dalam yakni melambangkan mahkota atau penguasa tinggi, sudah barang tentu dalam hal ini diidentikkan dengan eksistensi raja atau sultan sebagai penguasa tertinggi di Kraton yang sekaligus mendapatkan legitimasi dari Tuhan selaku wakil-Nya di dunia yang sesuai dengan gelar yang disandang raja atau sultan. Dalam hal ini yang mampu memelihara ketentraman dengan kuasanya hanyalah raja atau sultan yang dianggap dan dilegitimasikan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, dari pada itu hanya raja yang boleh menggunakan motif  atau corak ini dengan maksud hanya raja dan penguasa yang mampu dan memiliki kekuatan untuk memelihara dan memberikan keseimbangan berupa perlindungan kepada rakyatnya.

Garuda dalam mithologi Hidhu, dilambangkan sebagai wahana dewa Wisnu, yang juga sebagai simbol khusus Dewa Wisnu (dewa pemelihara)[46]. Selain terdapat pada batik, motif-motif garuda sering dijumpai pada benda-benda kepurbakalaan Indonesia-Hindhu baik pada sebuah arca, candi maupun prasasti. Garuda mempunyai makna simbolis yaitu sebagai kekuatan pembebas seperti halnya cerita tentang Garudeya pada relief candi Kidal, Jawa Timur yang berupaya membebaskan ibunya Sang Winata dari Sang Kadru dengan membawa air Amerta, (A : tidak, Merta : mati)[47]. Jadi, dapat disimpulkan bahwa burung garuda sebagai lambang keabadian seperti perjuangannya untuk mendapatkan air Amerta. Dalam hal ini motif garuda sering muncul pada batik Yogyakarta dan Surakarta. Motif garuda pada batik Tuban digambarkan dengan sepasang sayap setengah terbuka, ditepi masing-masing sayap dirangkai dengan motif sayap tertutup, seolah burung yang sedang hinggap dilihat tampak samping, motif ini disebut sebagai motif garudha mungkur, yang menjadi ciri khas motif garuda versi batik Tuban.

Ragam hias batik dengan motif sidomukti (sido : jadi, mukti : bahagia) memiliki makna sejahtera lahir dan batin. Kain motif  ini biasa dipakai sebagai busana pengantin dengan harapan dapat mencapai kebahagiaan, berkecukupan, masa depan yang baik, kasih sayang, dan keluhuran budi setelah memperoleh anugerah dan limpahan-Nya[48]. Batik sidomukti pada batik Tuban dibuat lebih semarak, dalam artian motif sidomukti dari batik Kraton tersebut dipadukan dengan motif ceplok bunga dan motif burung merak serta diberi latar warna coklat soga. Batik sidomukti versi Tuban ini dipercaya oleh masyarakat setempat mampu mendatangakan kebahagiaan khususnya kepada para pengantin yang hendak merajut benang kehidupan yang akan ditempuh. Oleh karena itu, motif batik ini sering dipakai pada acara-acara pernikahan atau biasa disebut panggih.

Pada corak geringsing (isen-isen) tergambarkan susunan bentuk biji buah asam (klungsu : dalam bahasa Jawa), yang latar sejarahnya corak ini termasuk salah satu corak pada batik tua yang juga disebut-sebut pada jaman sebelum Majapahit[49]. Sedang pada corak geringsing pada batik Tuban dibuat lebih semarak dan unik yakni dipadukan dengan motif lunglungan, kupu-kupu, tumbuhan dan burung yang disebut dengan motif geringsing buket. Pada motif lunglungan terdapat tambahan corak tangkai tumbuhan yang berlekuk berkesinambungan yang seringkali juga ditambah dengan lukisan burung (phoenix) berekor panjang berliuk-liuk, yang menjadi motif geringsing khas batik Tuban[50].

Salah satu pengaruh ragam hias Cina yang menonjol pada perkembangan ragam hias batik Tuban adalah motif batik Lok Chan dengan motif utamanya adalah burung Phunik.  Batik Lok Chan pertama kali dibuat di daerah Pantai Utara Jawa Tengah (Rembang, Juwana, Pati, dan Lasem)[51]. Batik Lok Chan kemudian tersebar ke beberapa daerah pantai utara Jawa lainnya seperti, Indramayu, Cirebon, Tuban, serta dipakai pada upacara adat atau sebagai pelengkap busana yang melambangkan kedudukan seseorang[52]. Kun Lestari, dkk dalam bukunya, [53] mengatakan bahwa Tuban letaknya berdekatan dengan Lasem yang dikenal sebagai daerah pembatikan, kedekatan wilayah/lokasi dan hubungan masyarakatnya sangat mungkin menyebabkan kesamaan dalam penciptaan seni termasuk dalam seni membatik dengan corak dan ragam hiasnya sebagai akibat dari adanya proses interaksi antar derah pembatikan. Batik Lok Chan pada batik Tuban disebut batik motif locanan.

Pada batik motif locanan ini menampilkan motif utama burung phunik dan motif tambahan berupa rangkaian daun dan bunga. Motif tambahan tersebut ditampilkan untuk mengisi seluruh bidang di sela-sela motif utamanya. Motif burung phunik digambarkan dengan ukuran yang cukup besar diatur berderet mengikuti alur bidang kain. Kedua sayapnya dilukiskan sedang mengembang, paruh terbuka, dan ekor mencuat tinggi ke atas. Motif burung phunik yang digambarkan dengan kedua sayapnya ke atas, ekor digambarkan pendek (seolah-olah tidak berekor)[54].

I. Daftar Pustaka

Amri Yahya. 1985. Sejarah Perkembangan Seni Lukis Batik di Indonesia. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Arwan Tuti Artha, Heddy Shri, Ahimsa Putra. 2004. Jejak Masa Lalu Sejuta Warisan Budaya. Yogyakarta: Kunci Ilmu.

Bandi.  1992. Batik Gedog Tuban. Surabaya: Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur.

Biranul Annas. 1997. Batik Kraton dan Pesisiran (Sejarah dan Aspek Sosial Budaya). Yayasan Harapan Kita/BP3 TMII.

Casta. 2003. Melacak Sejarah Perkembangan Batik Trusmi Cirebon. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia  Yogyakarta.

Dharsono. 2004. Budaya Nusantara (Kajian Konsep Mandala dan Konsep Triloka Terhadap Pohon Hayat Pada Batik Klasik). Bandung: Rekayasa Sains.

Hoop, Van Der A.N.J.Th. a Th. 1949. Indonesische Siermotieven. Uitgegeven Door Het, Koninlijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen.

Iwan Tirta. “Simbolisme Dalam Corak dan Warna Batik” dalam majalah femina No. 28/XIII-23 Juli 1985.

Jazir Marzuki. 1964. Batik Pola dan Corak. Jakarta: Djambatan.

Kun Lestari, Tin Suhartini, Hartanto. 2006. Rona Batik Tuban Mantap Menawan. Tuban: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Tuban.

Kuswaji Kawindrasusanta, “Mengenal Seni Batik di Yogyakarta” dalam Sana-Budaya, Maret 1982.

Mustadji. 2001. Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Surabaya: Unesa University Press.

Nian S Djoemena. 1990. Batik dan Mitra Jakarta: Djambatan.

_____________ . 1990. Ungkapan Sehelai Batik. Jakarta: Djambatan.

Onggal Sihite. 1997. Konflik dan Kerjasama pada Masyarakat Pelaku Kesenian Batik Kampung Taman (Tesis). Jakarta : Universitas Indonesia.

Purwadi. 2007. Busana Jawa (Jenis-Jenis Pakaian Adat, Sejarah, Nilai Filosofi dan Penerapannya). Yogyakarta: Pura Pustaka.

Santosa Doellah. 2002. Batik Pengaruh Jaman dan Lingkungan. Surakarta: Danar Hadi.

Saripin. 1960. Sejarah Kesenian Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.

S.K Sewan Susanto. 1973. Seni Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan Yogyakarta.

____________ . “Perkembangan dan Pembaharuan Dalam Pembatikan” makalah disampaikan dalam rangka diskusi pembinaan pembatik muda tanggal 12 Nopember 1980.

Soedarsono SP. MA. 1998. Seni Lukis Batik. Yogyakarta : IKIP Negeri Yogyakarta.

Soegeng Toekio. 1987. Mengenal Ragam Hias Indonesia. Bandung: Angkasa.

Tim Penyusun. 1986. Sejarah Industri Batik Indonesia. Yogyakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.

Tim Penyusun. 2002. Catalogue Several Etnic Motif Design of Indonesia. Yogyakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.

Thomas Philip Kettly. “Batik dan Kebudayaan Populer”. dalam Prisma Mei 1987.

This entry was posted in Alam Ide and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s