REFLEKSI KEPEMIMPINAN KERTANEGARA

Oleh:

Suminto Fitriantoro

A. Abstrak

Kertanegara represent figure a coherent and smart leader, and also major nation integrity. Experiences of Kertanegara during becoming young king below its father tuition of Wisnuwardhana form its personality as a leader. During becoming leader of Kertanegara can bring Singhasari  his golden top, He arrange governance of home affairs systematically, and also overseas politics of him focussed by  extension of cakramandala. Coherence of stand-out Kertanegara of its attitude refuse eamperor of Kubhlai Khan to confess power of Empire of Tiongkok. Deduction conducted by Kertanegara that is by harsh namely hurt face of Meng Ki, courier of Kubhlai Khan. Action mentioned as betrayal form to glorious emperor of Kubhlai Khan which is on at that time have wide of power area.

Kata Kunci : Pemimpin, Kertanegara

B. Biografi Singkat Kertanegara

Banyak orang yang belum mengenal figur kepemimpinan Kertanegara. Kertanegara dilahirkan dari kasta ksatria, Ia merupakan keturunan dari raja-raja yang berkuasa di Singhasari. Kertanegara merupakan raja terakhir yang mampu mengusung Singhasari menuju puncak kejayaannya. Kertanegara adalah anak dari Wisnuwardhana dengan Jayawardhani raja Singhasari yang keempat. Wisnuwardhana adalah anak dari Anusapati, dan Anusapati adalah anak dari Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Jadi, dapat dikatakan bahwa Kertanegara adalah cicit dari Tunggul Ametung. Namun, yang menjadi pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Singhasari adalah Ken Angrok.   Ken Angrok adalah anak dari Ken Endok, anak desa yang berasal dari sebelah timur gunung kawi. Ia adalah anak yang nakal, suka mencuri, memperkosa bahkan membunuh. Atas anjuran Dahyang Lohgawe, Ia menghamba  kepada Tunggul Ametung di Tumapel. Dalam pararaton dijelaskan bahwa, ketika Ken Angrok melihat rahsya (anunya) Ken Dedes yang memancarkan cahaya ketika kainnya tersingkap pada waktu turun dari tandu, menumbuhkan gairah nafsu birahi Ken Angrok, hingga keinginannya untuk mempersunting Ken Dedes kemudian membunuh suaminya yaitu Tunggul Ametung. Setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung dan mempersunting Ken Dedes, kemudian Ia menjadi seorang akuwu di Tumapel (R. Pitono, 1965: 144).

Setelah lama menjadi akuwu di Tumapel, suatu hari Ken Angrok didatangi para Brahmana dari Daha Kediri. Mereka datang  meminta bantuan kepada Ken Angrok atas tindakan raja Kediri yaitu Kertajaya (dalam sumber babad tanah Jawi disebut prabu Dandang Gendis). Atas desakan kaum brahmana, akhirnya berangkatlah Ken Angrok untuk memberontak kepada Kertajaya dengan menggunakan nama Bathara Guru. Setelah berhasil mengalahkan prabu Dandang Gendis dari Kediri, Ken Angrok dinobatkan menjadi Raja Singhasari dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi atau sebagai Wangsa Girindra, artinya keturunan dari Girindra atau Siwa ( R. Pitono, 1961 : 144). Selama berdiri, kerajaan Singhasari diperintah oleh lima raja berturut-turut, baik keturunan dari Tunggul Ametung maupun Ken Angrok. Dalam sejarah Singhasari-Majapahit putra-putri Ken Angrok memegang peranan penting yakni menurunkan raja-raja Singhasari Majapahit, seperti Mahisa Wonga Teleng dan Anusapati. Mahisa Wonga Teleng menurunkan Raden Wijaya yang kemudian menjadi raja pertama Majapahit. Sementara Anusapati menurunkan raja Kertanegara sebagai raja terakhir yang terkemuka di Singhasari. (Slamet Mulyana, 1965 : 102).

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa raja yang paling terkemuka diantara raja-raja yang pernah berkuasa di Singhasari adalah Kertanegara. Prasasti “Mula Malurung” yang berangka tahun 1255 M, menerangkan bahwa pada waktu Kertanegara sebagai putra mahkota (Narryan Murdhaja), Ia sebagai raja muda yang memerintah di suatu daerah di bawah bimbingan sang ayah (Wisnuwardhana). Hal ini memberikan inisiatif tersendiri bagi Kertanegara atas pengalaman-pengalamannya menjadi seorang pemimpin serta membentuk karakter sifat Kertanegara (Mawarti Djoened Poesponegoro, 1992 : 339).

C. Pandangan Politik Kertanegara

Bermodal dari pengalamannya ketika menjadi raja muda, Kertanegara mempunyai pandangan politik yang luas, baik politik dalam negeri maupun politik luar negeri. Setelah Wisnuwardhana wafat, Kertanegara tampil kemuka dalam singgasana menggantikan sang ayah menjadi raja Singhasari. Prasasti Mula Malurung 1255 M, memberikan informasi bahwa, ketika Kertanegara sebagai raja muda, Ia memerintah dibawah bimbingan ayahnya (Wisnuwardhana). Pengalamannya menjadi raja muda sudah barang tentu membentuk kepribadian bagi Kertanegara. Adapun sifat Kertanegara itu sebagai Berikut:

  1. Terlalu ambisius, dalam hal ini Kertanegara mempunyai semangat yang tinggi dalam upayanya untuk mencapai cita-cita.
  2. Mempunyai pandangan yang luas, artinya Kertanegara tidak  kuper atau kurang pergaulan.
  3. Cakap dan bersikap tegas, hal ini terkait dalam bidang pemerintahan. Sikap tegas Kertanegara dapat ditunjukkan ketika Ia menolak ultimatum Kaisar Kublai Khan yang menyuruhnya untuk tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Cina itu. Penolakan itu dilakukan Kertanegara dengan cara melukai wajah (memotong telinga) Men Khi utusan Kaisar Kublai Khan. Hal ini merupakan penghinaan besar bagi kaisar khan agung.
  4. Seorang ahli negara  yang ulung, Ia mengatur struktur pemerintahan yang sistematis.
  5. Mempunyai pengetahuan yang tinggi terutama di bidang agama, dalam hal ini Ia menulis sebuah buku Rajapatigundala.
  6. Ia sebagai pemimpin yang menghormati kebebasan beragama.
  7. Kurang hati-hati atau terburu-buru, hal ini terlihat jelas ketika Ia melakukan penyerangan ke Cina,  tanpa menghiraukan musuh dalam selimut yaitu Jayakatwang dari Kediri yang pada waktu itu di bawah kekuasaanya.
  8. Mudah percaya kepada orang lain.

Pandangan politik Kertanegara untuk mengatur pemerintahan dalam negeri mempunyai dua sasaran utama yaitu kelancaran pemerintahan dan stabilisasi. Untuk mendukung politiknya itu, langkah pertama yang dilakukan oleh Kertanegara adalah memecat patihnya bernama Raganata dan menggantinya dengan Kebo Tengah Apanji Aragani. Pemecatan itu dilakukan karena Mapatih Raganata tidak menyetujui pandangan politik baru Kertanegara untuk mempersatukan Nusantara (R. Pitono, 1961 : 156). Raganata tidak menyetujui politik Kertanegara itu karena menurut pendapatnya bahwa keamanan dalam negeri harus lebih diutamakan (Slamet Mulyono, 1965 : 129).

Pandangan politik kedua Kertanegara untuk mengatur stabilitas negaranya adalah merangkul Kediri ke dalam kekuasaanya. Hal ini dilakukan dengan cara, mengangkat Jayakatwang sebagai wakil raja Kediri. Jayatkatwang merupakan keturunan dari Kertajaya raja terakhir Kediri yang berhasil dikalahkan oleh Ken Angrok. Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk mengikat sifat Jayakatwang yang ambisius. Kemudian mengangkat putra Jayakatwang yang bernama Ardharaja sebagai menantu dan mengangkat Banyak Wide, seorang pejabat rendah di Istana menjadi Bupati di Sumenep dengan Arya Wiraradja. Kertanegara juga menikahkan adik perempuannya bernama Turukbali dengan Jayakatwang. (R. Pitono, 1961 : 156). Pandangan politik dalam negeri Kertanegara ini terhambat oleh adanya pemberontakan-pemberontakan dalam negeri, namun akhirnya dapat dipadamkan. Pemberontakan pertama adalah pemberontakan Khalana Bhaya (Cayaraja) yang terjadi pada tahun 1270 M, disusul dengan pemberontakan Mahisa Rangkah pada tahun 1280 M (R.Pitono, 1961 : 154). Kertanegara mengatur susunan pemerintahannya secara sistematis. Pemerintahan tertinggi di pegang oleh seorang raja yakni Kertanegara sebagai penguasa tunggal, kedudukan kedua ditempati oleh Dewan Penasehat Raja yang terdiri dari Rakaryan I Hino, Rakaryan I Halu dan Rakaryan I Sirikan, dan kedudukan terakhir ditempati oleh Pejabat Tinggi Kerajaan yang terdiri dari Rakaryan Mapatih, Rakryan Demang, dan Rakaryan Kanuruhan. Susunan pemerintahan ini yang kemudian berlanjut sampai pada kerajaan Majapahit.

Pandangan politik luar negeri Kertanegara di fokuskan pada wawasan “cakramandala”. Dalam mengembangkan sayapnya, Kertanegara merangkul kerajaan-kerajaan di pantai Asia Tenggara dan Cina Selatan sebagai mitra sejati. Dalam hal  ini Kertanegara bersahabat dengan negeri Campa (Sartono Kartodirdjo, 1993 : 51). Hal ini terbukti dalam prasasti Po Sah dekat Phanrang yang berangka tahun 1306 M yang memberi informasi bahwa Raja Campa Jaya Simihawamana III mempunyai salah seorang permaisuri yang bernama Tapasi. Ia adalah adik Kertanegara (N.J. Kroom, 1954 : 182). Penakhlukan di berbagai daerah juga dilakukan oleh Kertanegara, penakhlukan yang pertama dikenal dengan ekspedisi pamalayu yakni penakhlukan terhadap Sriwijaya pada tahun 1275 M. Penakhlukan atas Sriwijaya ini dikarenakan faktor ekonomi, yakni terkait dengan pelabuhan Malayu yang pada waktu masih dikuasai oleh Sriwijaya, pelabuhan ini sangat ramai dan banyak dikunjungi oleh kapal-kapal asing dari India dan Tiongkok. Selanjutnya penaklhukan juga dilakukan oleh Kertanegara atas Bali pada tahun 1284 M (H.J. Van Den Berg dkk, 1952 : 347).

D. Refleksi Pemerintahan Kertanegara

Mencari figur seorang pemimpin seperti Kertanegara  tidaklah mudah, tidak semudah membeli “kacang garing”. Pada hakekatnya pemimpin yang bijaksana harus mengutamakan kepentingan jagat atau negara di atas kepentingan pribadi. Terkait hal tersebut,  Edi Sedyawati, dkk (1997:7), menyebutkan ‘Astabrata’ dalam Kakawin Ramayana menjelaskan pada saat Wibhisana hendak dijadikan Raja Alengka, Ia sangat sedih memikirkan nasib malang kakaknya (Rahwana), maka Rama mengatakan kepadanya, bahwa Rahwana tidak perlu ditangisi lagi, karena Ia meninggal sebagai pahlawan. Rama menyebutkan bagaimana seorang pemimpin semestinya bersikap dan bertindak. Dalam kaitan itulah disebutkan ‘Astabrata’ yang dijelaskan sebagai delapan “perbuatan baik” yang tentu didasari pengalaman bahwa istilah “brata” mempunyai arti “perbuatan”. Maka ungkapan ‘Astabrata’ bisa diartikan sebagai “delapan sifat baik” sebagai berikut:

  1. Dewa Indra, bratanya ialah sifat dan watak Angkasa (langit): Langit mempunyai keleluasaan yang tidak terbatas, sehingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keleluasaan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.
  2. Dewa Surya, bratanya ialah sifat dan watak Matahari. Matahari merupakan sumber segala kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya.
  3. Dewa Anila / Bayu (Dewa Angin), bratanya ialah sifat dan watak Maruta (angin). Angin selalu berada di segala tempat tanpa membedakan dataran tinggi atau rendah, daerah kota maupun pedesaan. Seorang pemimpin hendaklah selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya.
  4. Dewa Kuwera, bratanya ialah sifat dan watak Bintang (kartika). Bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit, hingga dapat menjadi pedoman arah (kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan meyesatkan.
  5. Dewa Baruna, bratanya ialah sifat dan watak Samudra (laut/air). Laut betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan sejuk, menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian Ia dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.
  6. Dewa Agni / Brama, bratanya ialah sifat dan watak Dahana atau Api. Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.
  7. Dewa Yama, bratanya ialah sifat dan watak Bumi (tanah). Bumi mempunyai sifat murah hati selalu meberi hasil siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin seharusnya berwatak murah hati, suka memberi dan beramal, senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.
  8. Dewa Candra, bratanya ialah sifat dan watak Candra (Bulan). Keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan, memberi dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyat, ketika rakyat sedang menderita kesulitan.

Berkiblat dari kepemimpinan Kertanegara, banyak sekali sikap-sikap positif yang dapat diambil untuk terjun ke dalam kancah politik pemerintahan. Kertanegara terkenal sebagai raja yang berwibawa di kerajaan Singhasari, bahkan dalam panggung sejarah dunia. Kharismatik Kertanegara dapat dilihat atas penolakannya untuk tunduk kepada kaisar Kubhlai Khan. Pandangan politik luar negeri Kertanegara dalam wawasan cakramandala berbenturan dengan pandangan politik Kubhlai Khan. Di satu pihak Kubhlai Khan berkeinginan untuk menguasai dunia (daratan Asia). Sementara itu, Kertanegara juga mempunyai ambisi untuk menakhlukan raja-raja Jawa.

Setelah Kubhlai Khan menguasai hampir seluruh daratan Asia, Ia melihat Jawa berada dalam kekuasaan Kertanegara. Oleh karena itu, Kubhlai Khan mengutus Meng Ki ke Singhasari dan menyuruh Kertanegara mengakui kekuasaan Kubhlai Khan. Namun, hal itu tidak digubris oleh Kertanegara, bahkan Meng Ki dilukai wajahnya sebagai balasan atas perintah kaisar Kubhlai Khan tersebut. Melihat hal itu, Kubhlai Khan marah besar dan mempersiapkan 20.000 tentara tar-tar di bawah pimpinan Shi Pi, Ike Mese dan Kau Hsing lengkap dengan membawa segala perlengkapan perang dan bahan makanan  untuk menggempur kerajaan Singhasari. Sementara itu, Kertanegara sudah mengetahui resiko atas perbuatannya kepada Meng Ki. Oleh karena itu, Kertanegara mempersiapkan diri dan melatih para prajurit untuk menghalau kemungkinan terjadinya serangan Kubhlai Khan. Setelah lama menunggu kedatangan serangan tentara tar-tar, Kertanegara tidak sabar lagi, Ia memerintahkan semua  prajuritnya untuk menyerang ke Tiongkok. Hal ini dimanfaatkan oleh Jayakatwang raja Kediri untuk membebaskan diri dari kekangan Singhasari, karena beberapa pejabat penting kerajaan Singhasari telah ditugaskan menyerang ke Tiongkok, mengakibatkan lemahnya kekuatan di Istana kerajaan, sehingga dengan mudah Jayakatwang menguasai Singhasari dan Kertanegara tewas di tangan Jayakatwang. Namun, salah satu menantunya bernama Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan mendirikan kerajaan Majapahit. Kedatangan tentara tar-tar untuk menggempur Singhasari sudah terlambat, situasi keadaan sudah berubah, Singhasari sudah dikuasai oleh Kediri. Namun, tentara tar-tar ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menggempur Kediri terkait ambisinya untuk menguasai kembali tanah Jawa.

Dari uaraian di atas, maka sikap tegas dalam kepemimpinan Kertanegara perlu dilastarikan untuk masa kini dan yang akan datang. Penolakan Kertanegara atas permintaan kaisar Kubhlai Khan untuk mengakui kekuasannya, sudah sepantasnya diberi acungan jempol. Betapa gagah dan beraninya seorang pemimpin seperti Kertanegara menolak permintaan Kaisar Agung yang memiliki puluhan ribu tentara dan wilayah kekuasaan yang luas dengan cara kasar yakni melukai wajah Meng Ki.

Maka sudah sepantasnya kita memberi acungan jempol kepada Kertanegara!!!. Salam Penulis…!!!.

Penulis mengundang para pecinta sejarah terutama sejarah klasik untuk beramai-ramai menulis artikel di website supaya dibaca oleh berbagai kalangan akademisi. Mari kita lestarikan sejarah bangsa Indonesia ini, karena di dalam sejarah banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga yang dapat kita ambil untuk masa kini dan yang akan datang bung Karno mengatakan “JAS MERAH” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) Merdeka….!!!

This entry was posted in Alam Ide and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s