TUBAN KOTA BISNIS: Sebuah Tinjauan Historis Abad XV-XVI

Jhota Bangkit Andaka[1]

Abstract

Tuban is a harbor city in northern East Java. It has significant role as a bussines and voyage city since Kadiri, Singhasari, Majapahit until the golden era of the Islamic kingdoms. During XV-XVI century, Tuban became a part of international network of bussines. The foreigner from Arab, Persia, Gujarat, China and other islands in south-east Asia came to this city to took a part into bussines activity and made some new communities. Always happened good social interaction between the foreigner communities and the local citizens. This fact made the Tuban’s peoples have great interpreneunship, increased soil condition is not so good for farming activity, also Sunan Bonang as an Islam missionarist also an bussinesman.

Keyword: Tuban, economy, bussines network

Berita-Berita Tentang Tuban

Bukti tertulis yang dapat dikaitkan dengan sejarah kota Tuban antara lain dapat diketahui berdasarkan empat prasati yang ditemukan di sekitar Tuban. Prasasti pertama dikenal dengan sebutan prasasti Kambangputih yang diduga berasal dari tahun 1050 M, prasasti kedua dinamakan prasasti Malenga yang merupakan prasasti “tinulad” atau salinan dari prasasti asli yang berasal dari tahun 1052 M, sedangkan prasasti ketiga dikenal dengan sebutan prasasti jaring yang diduga berasal dari tahun 1181 M, dan sebuah lagi prasasti Karangbogem yang berasal dari tahun 1308 M.

N.J. Krom mengaitkan prasasti pertama dengan perbaikan pelabuhan Kambangputih yang diduga terletak di sekitar kota Tuban. Prasasti kedua memuat keterangan tentang pemberian anugerah Sri Maharaja Sira Hari Garasakan kepada penduduk Malenga berupa penetapan desa tersebut menjadi Sima. Anugerah tersebut diberikan karena jasa penduduk Malenga dalam mempertahankan wilayah kekuasaan baginda dari serangan melawan Hari Linggajaya. Prasasti ketiga memuat anugerah raja untuk menjadikan desa Jaring menjadi Sima. Anugerah tersebut diberikan karena penduduk telah memperlihatkan kesetiaannya kepada Sri Maharaja untuk mempertaruhkan nyawa dalam memerangi musuh. Informasi penting lainnya adalah disebutkannya jabatan Senapati Sarwwajala, yang artinya kurang lebih indikasi adanya angkatan laut dan adanya sejumlah pelabuhan yang tersebar di seluruh pantai kerajaan Kadiri, baik untuk kepentingan dagang maupun pertahanan.[2]

Sebenarnya sejak zaman kerajaan Kadiri dan Singasari (abad XI M), Tuban telah menjadi kota pelabuhan yang penting dan menjadi jalur perniagaan kedua kerajaan tersebut. Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Airlangga disebutkan orang-orang asing yang berdagang yaitu pedagang India Utara, India Selatan, Sailan, Burma, Kamboja dan Campa. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa Tuban mungkin sekali telah menjadi kota sejak abad ke-11, baik sebagai pusat dagang internasional maupun sebagai pusat pertahanan militer untuk menghadapi serangan-serangan dari luar. Peranan ini semakin tampak pada masa Majapahit dan masa-masa selanjutnya.[3]

Diceritakan pula bahwa ketika hendak menyerbu Singasari, tentara Mongol utusan Kubilai Khan juga masuk pulau Jawa melalui pelabuhan Tuban (1292 M) dan berlayar pulang ke negeri mereka juga melalui Tuban. Akan tetapi mulai pada abad XV masehi peranan Tuban sebagai kota pelabuhan dan perdagangan semakin signifikan. Ma Huan dan Fei Xin bersama rombongan muhibah Cheng Ho ketika hendak mengunjungi pusat kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menceritakan keadaan kota Tuban pada masa itu dalam Ying-yai Sheng-lan (1416):

Di Tuban, uang kepengan dari tiongkok yang terbuat dari kuningan berlaku pula. Di daerah ini terdapat penduduk lebih dari seribu keluarga yang dipimpin oleh dua kepala daerah. Di antaranya banyak terdapat perantau Tionghoa yang berasal dari provinsi Guangdong (Kwangtung) dan Zhangzhou. Tuban dahulu terletak di pantai berpasir. Dengan kedatangan banyak perantau Tionghoa, terbentuklah suatu kampung baru. Maka perantau Tionghoa menyebut Tuban sebagai Xin Cun (kampung baru). Di Tuban harga ayam, kambing dan sayur mayor sangat murah. Di pantai terdapat sebuah telaga yang rasa airnya agak manis dan dapat diminum. Konon kabarnya oleh masyarakat setempat air telaga itu dianggap suci. [4]

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa, Tuban sejak abad XIV telah ramai oleh pedagang-pedagang asing terutama dari negeri Cina, bahkan sebagian dari mereka menetap disitu dan membentuk suatu komunitas. Dalam Ying-yai Sheng-lan disebutkan pula bahwa Tuban merupakan salah satu dari empat kota besar di Jawa yang tidak memiliki tembok kota.[5]

Mengenai gambaran fisik kota Tuban lebih sedikit lagi diketahui. Sumber berita Cina seperti dikutip di atas, hanya menyebutkan bahwa Tuban, sebagaimana kota-kota lain di Jawa ketika itu tidak memiliki tembok kota, tidak seperti kota-kota di Cina. Keterangan dari masa berikutnya memberikan indikasi adanya perkembangan dari perubahan kota Tuban. Kitab Pararaton yang berasal dari sekitar abad ke-17 memberikan keterangan bahwa kota Tuban dikelilingi oleh tembok kota. Adanya tembok keliling kota dapat menjadi indicator adanya dua hal penting yaitu (1) bahwa Tuban telah berkembang menjadi pusat pemukiman yang penting setidak-tidaknya bagi pusat-pusat kekuatan politik dan ekonomi lain. Pembuatan pagar keliling kota tentu tidak terlepas dari keinginan para penguasa dari luar; (2) Kota Tuban merupakan daerah yang cukup rawan karena merupakan pintu gerbang masuknya kekuatan-kekuatan luar yang hendak menembus ke wilayah pusat kekuasaan di pedalaman.

Kondisi Perekonomian

Bahwa Tuban sejak dulu dipilih menjadi pelabuhan yang memiliki posisi penting, tentunya tempat ini mempunyai keistimewaan-keistimewaan tertentu. Keistimewaan tersebut tampaknya memang dimiliki oleh Tuban, setidak-tidaknya yang dapat diketahui berdasarkan sumber sejarah dari masa-masa kemudian.

Sumber sejarah zaman Belanda menggambarkan bahwa kondisi geografis Tuban dan alam lingkungannya telah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan kota Tuban sebagai kota perdagangan sejak sebelum kedatangan Belanda. Teluk Tuban dinilai aman dan baik untuk transportasi laut karena kedalamannya yang ideal bagi perahu-perahu besar yang datang.

Tuban sebagai kota pelabuhan, pada dasarnya menjalankan fungsi niaga. Dari wilayah pedalaman ditampung barang-barang local, sedangkan dari wilayah luar ditampung barang-barang impor yang biasanya bermutu tinggi.

Penduduk setempat memperdagangkan barang-barang seperti lada, bermacam-macam jenis burung, tulang penyu, cula badak, gading, mutiara, kayu cendana, rempah-rempah, kapur barus, saffron dan sulfur. Pada masa Majapahit barang dagangan local yang paling utama adalah beras, sedangkan barang-barang impor yang paling disukai adalah porselen pola biru dari Cina, gading, kain sutera bersulam emas dan manik-manik. Bahkan pakaian-pakaian mahal yang menjadi kesukaan golongan elit pada masa Majapahit masih tetap menjadi komoditi yang penting hingga abad ke-16 sebagaimana diberitakan oleh Tome Pires.[6]

Barang-barang komoditi lainnya yang juga diperjual belikan meliputi barang-barang yang terbuat dari tembaga, emas, perak, berbagai macam piring dari emas dan perak, kain damas dan barang-barang pecah belah dari porselen.

Keterangan mengenai barang-barang komoditi tersebut memang masih sangat umum. Gambaran yang lebih spesifik mengenai jenis-jenis komoditi baru bisa diperoleh sesudah Tuban berada di bawah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda.[7]

Kondisi tanah di sekitar kota Tuban yang kurang subur, membentuk karakter masyarakatnya yang memiliki jiwa Enterpreneurship (kewirausahaan) sehingga mata pencaharian mereka lebih condong kepada sektor perdagangan dan maritim. Demikian pula dengan komunitas muslim yang dipimpin oleh Sunan Bonang pada abad XVI M lebih menekankan pada aspek perdagangan dan pelayaran.

Jaringan Perdagangan

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa mulai abad XV seiring dengan perkembangan agama Islam, banyak pedagang dari Arab dan Gujarat yang singgah dan melakukan aktivitas perniagaan di Tuban. Ditinjau dari segi geografis, letak Tuban memang berada pada posisi yang strategis, berada di pantai utara Jawa bagian timur dan berhadapan langsung dengan laut Jawa sehingga banyak disinggahi para pedagang dari barat yang hendak ke Makasar dan Maluku atau sebaliknya. Tuban juga menjadi bagian dari jaringan perdagangan di nusantara selama beberapa abad. Seperti Sriwijaya (abad 7 M sampai dengan abad 14 M), Tuban, Samudra Pasai (abad 13), Gresik dan Malaka (abad 15), Surabaya dan Jepara (abad 15). Kunci Indonesia di sebelah timur terletak pada Makasar, Ternate dan Ambon. Jalan ini dimulai dari Indonesia barat karena di Indonesia barat terdapat Negara-negara yang berpenduduk padat, memanjang ke arah timur kemudian kembali lagi ke barat. Selain dipergunakan sebagai jalan perdagangan jalan ini dipergunakan pula sebagai:

1. Lalu lintas orang

Hilir mudiknya orang antar pulau di Indonesia melewati jalan ini, terutama bagi pedagang, baik pedagang bangsa Indonesia, maupun pedagang bangsa asing misalnya : bangsa India, Cina, Arab, Portugis Belanda dan Inggris.

2. Lalu lintas barang

Dari arah barat ke timur meluncurlah barang-barang yang dibawa oleh pedagang misalnya kain dari India, beras dari Jawa dan lain-lain dibawa ke Maluku. Dari timur ke barat diangkut rempah-rempah dari Maluku, lada dari Sumatra, kapur barus dari Sumatra Utara. Barang-barang yang masuk dari luar Indonesia antara lain porselen, barang pecah belah, sutera dari Tiongkok dan tenun dari India.

3. Lalu lintas kebudayaan dan agama

Penyebaran kebudayaan dan agama juga melalui jalan ini, baik agama Hindu, Budha, Islam maupun Agama Nasrani. Di sekitar jalan ini tumbuhlah kerajaan-kerajaan yang akhirnya berkembang menjadi pusat perdagangan dan agama misalnya Sriwijaya. Pada waktu Islam mulai menyebarkan sayapnya pada abad 15 M muncullah kerajaan-kerajaan Islam dan pelabuhan pusat perdagangan seperti Pasai, Aceh, Banten, Demak, Gresik, Makasar dan Ternate yang sekaligus juga merupakan pusat-pusat penyiaran Islam.[8]

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sejak abad XI M pada masa Kerajaan Kadiri dan Singasari, Kota Tuban telah menjadi kota dagang yang ramai, selain itu Tuban juga menjadi basis kekuatan militer untuk mengantisipasi serangan dari luar. Tuban juga menjadi bagian dari jaringan perdagangan di Nusantara selama berabad-abad. Seiring dengan perkembangan agama Islam (abad XV-XVI M), Tuban menjadi semakin ramai oleh pedagang-pedagang asing yang melakukan aktivitas perdagangan, sebagian dari mereka bahkan menetap dan membentuk suatu komunitas. Tuban telah menjadi kota pedagangan internasional sehingga di dalamnya terjadi interaksi perdagangan, dan secara otomatis juga terjadi penetrasi kebudayaan dan agama. Sejak dulu masyarakat kota Tuban memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi sehingga mendukung terjadinya kegiatan perniagaan yang menjadikan masyarakat Tuban unggul dalam ekonominya.

Kepustakaan

Al Qurtubi, Sumanto, 2003, Arus Cina-Islam-Jawa, Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV-XVI, Jakarta, Inspeal Ahimsakarya Press

Kartodirjo, Sartono, Marwati D. Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1977,Sejarah Nasional Indonesia (jilid III), Jakarta

Kasdi, Aminudin, 2005, Kepurbakalaan Sunan Giri, Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia Asli, Hindu-Budha dan Islam Abad 15-16, Surabaya, UNESA University Press

Purwadi, Dr., M.Hum & Maharsi, SS, M.Hum, 2005, Babad Demak, Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa, Yogyakarta, Tunas Harapan

Suwandi, 2003, Perkembangan Kota Gresik Sebagai Kota Dagang pada Abad XV-XVIII, Kajian Sejarah Lokal Berdasarkan Wawasan Sosial Ekonomi, Surabaya, UNESA University Press

Yayasan Festival Wali Songo, 1999, Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Wali Songo, Surabaya, Penerbit SIC

Yuanzhi, King, Prof., 2000, Muslim Tionghoa Chengho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta, Pustaka Populer Obor


[1] Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, FIS UNESA, angkatan 2005, NIM: 054284025

[2] Dr. H. A. Khozin Affandi, MA et al, Sunan Bonang, dalam Yayasan Festival Wali Songo, Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Wali Songo, YFWS & Penerbit SIC, Surabaya,  1999, hal : 160

[3] Ibid, hal: 161

[4] Prof. King Yuanzhi, Muslim Tionghoa Chengho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Pustaka Populer  Obor, Jakarta, 2000, hal: 107

[5] Dr. H. A. Khozin Affandi, MA et al, op. cit, hal: 161

[6] Ibid, hal : 164

[7] Ibid.

[8] Prof. Dr. Aminudin Kasdi, Kepurbakalaan Sunan Giri, Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia Asli, HIndu-Budha dan Islam Abad 15-16, UNESA University Press, Surabaya, 2005, hal: 10

This entry was posted in Alam Ide and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s